MAKALAH KERAJAAN MATARAM KUNO

MAKALAH KERAJAAN MATARAM KUNO






        DISUSUN OLEH

SILVY PUJI LESTARI
SELVIA
IRA SILVIANA ATIKA P

KELAS:X MIA 4



DINAS PENDIDIKAN NASIONAL
SMAN 8 KOTA BENGKULU
2016/2017

BAB 1

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

     Kerajaan Mataram berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan antara abad ke-8 dan abad ke-10.Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa raja Balitung. kerajaan Mataram Kuno atau disebut dengan Bhumi Mataram. Pada awalnya terletak di Jawa Tengah. Daerah Mataram dikelilingi oleh banyak pegunungan dan juga dialir banyak sungai besar diantaranya sungai Progo, Bogowonto, Elo, dan Bengawan Solo.
Kerajaan ini sering disebut dengan Kerajaan Mataram Kuno sebagai pembeda dengan Mataram Baru atau Kesultanan Mataram (Islam). Kerajaan Mataram merupakan daerah yang subur yang memudahkan terjadinya pertumbuhan penduduk yang  cukup pesat dan merupakan kekuatan utama bagi Negara darat.
    Kerajaan Mataram kuno adalah kerajaan zaman hindu yang banyak meninggalkan sejarah melalui prasasti yang ditemukan. Sejak abad 10 kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur dimulai dari pemerintahan Mpu Sindok yang kemudian di gantikan oleh Sri Lokapala. Selanjutnya adalah Makuthawangsa Wardhana, terakhir adalah Dharmawangsa Teguh sebagai penutup Kerajaan Mataram Kuno atau medang.
         Secara umun kerajaan Mataram Kuno pernah di pimpin oleh 3 dinasti yang pernah berkuasa pada waktu itu, yaitu Wangsa Sanjaya, Wangsa Sailendra, dan Wangsa Isyana. Wangsa Isyana merupakan dinasti yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno setelah berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.
         Pendiri dari dinasti Isyana adalah Mpu Sindok, baru membangun kerajaannya di Tamwlang tahun 929. Kerajaan yang didirikan Mpu Sindok merupakan lanjutan dari kerajaan mataram.Dengan demikian Mpu Sindok dianggap sebagai cikal bakal wangsa baru, yaitu wangsa Isana. Perpindahan kerajaan ke Jawa Timur tidak disertai dengan penaklukan karena sejak masa Dyah Balitung, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno telah meluas hingga ke Jawa Timur.
   



B. Rumusan Masalah

1. Bagaiman kehidupan sosial masyarakat kerajaan mataram kuno?
2. Bagaimana sistem pemerintahan kerajaan mataram kuno?
3. Bagaimana sistem kepercayaan/agama kerajaan mataram kuno?
4. Apa saja hasil kebudayaan kerajaan mataram kuno?


BAB II
PEMBAHASAN



1. Kehidupan sosial masyarakat mataram kuno
    Pada masa pertumbuhan dan berkaitan dengan masa pembangunan,maka Sultan Agung melakukan usaha-usaha antara lain untuk meningkatkan daerahdaerah persawahan dan memindahkan banyak para petani ke daerah Krawang yang subur. Atas dasar kehidupan agraris itulah disusun suatu masyarakat yang bersifat feodal. Para pejabat pemerintahan memperoleh imbalan berupa tanah garapan (lungguh), sehingga sistem kehidupan ini menjadi dasar munculnya tuan-tuan tanah di Jawa.
Pada masa kebesaran Mataram, kebudayaan juga berkembang antara lain seni tari, seni pahat, seni sastra dan sebagainya. Di samping itu muncul Kebudayaan Kejawen yang merupakan akulturasi antara kebudayan asli, Hindu, Buddha dengan Islam. Upacara Grebeg yang bersumber pada pemujaan roh nenek moyang berupa kenduri gunungan yang merupakan tradisi sejak zaman Majapahit dijatuhkan pada waktu perayaan hari besar Islam, sehingga muncul Grebeg Syawal pada hari raya idul Fitri.; Grebeg Maulud pada bulan Rabiulawal. Hitungan tahun yang sebelumnya merupakan tarikh Hindu yang didasarkan pada peredaran matahari (tarikh Samsiah) dan sejak tahun 1633 diubah menjadi tarikh Islam yang berdasarkan pada peredaran bulan (tarikh Kamariah). Tahun Hindu 1555 diteruskan dengan perhitungan baru dan dikenal dengan Tahun Jawa.
    Adanya suasana yang aman, damai dan tenteram, maka berkembang juga Kesusastraan Jawa. Sultan Agung sendiri mengarang Kitab Sastra Gending yang berupa kitab filsafat. Demikian juga muncul kitab Nitisruti, Nitisastra, dan Astabrata yang berisi ajaran tabiat baik yang bersumber pada kitab Ramayana.
Kerajaan Mataram Kuno meskipun dalam praktik keagamaannya terdiri atas agama Hindu dan agama Buddha, masyarakatnya tetap hdup rukun dan saling bertoleransi. Sikap itu dibuktikan ketika mereka bergotong royong dalam membangun Candi Borobudur. Masyarakat Hindu yang sebenarnya tidak ada kepentingan dalam membangun Candi Borobudur, tetapi karena sikap toleransi dan gotong royong yang telah mendarah daging turut juga dalam pembangunan tersebut.
Keteraturan kehidupan sosial di Kerajaan Mataram Kuno juga dibuktikan adanya kepatuhan hukum pada semua pihak. Peraturan hukum yang dibuat oleh penduduk desa ternyata juga di hormati dan dijalankan oleh para pegawai istana. Semua itu bisa berlangsung karena adanya hubungan erat antara rakyat dan kalangan istana.

2. Sistem pemerintahan mataram kuno
    Kerajaan mataram merupakan kerajaan yang system pemerintahanya adalah kerajaan. System ini digunakan sejak berdirinya mataram kuno di abat ke-8 hinaga tuntuhnya di abab ke-11 ( sumber Wikipedia) dari sistem nin kerajaan mataram di kuasai oleh beberpa penguasa. Kerajaan mataram  ini merupakan sebauh kerajaan yang bercorak hindu budha sehingga dalam sistimnya dikenal dengan dynasty. Dari catatan prasati yang ditinggalkannya kerajaan ini dibagi menjadi beberpa dinasti yaitu dinasti sanjaya dan dinasti sanjaya. Kerajaan ini merupakan kerajaan yang cukup besar ini dibuktikan dari wilayah yang di pimpinnya.
    Sistem kerajaan yang dipakai pada saat itu adalah kerajaan sehingga puncak tertinggi pemerintahan dipegang oleh raja.
    Sebelum  Sanjaya berkuasa  di Mataram  Kuno, di Jawa sudah   berkuasa   seorang   raja   bernama Sanna.   Menurut prasasti  Canggal  yang berangka tahun  732  M, diterangkan bahwa Raja Sanna telah digantikan oleh Sanjaya. Raja Sanjaya adalah putra Sanaha, saudara perempuan dari Sanna.
    Dalam Prasasti Sojomerto yang ditemukan di Desa Sojomerto, Kabupaten Batang, disebut nama Dapunta Syailendra yang beragama Syiwa (Hindu). Diperkirakan Dapunta  Syailendra berasal  dari Sriwijaya dan  menurunkan Dinasti Syailendra yang berkuasa di Jawa bagian tengah. Dalam hal  ini Dapunta   Syailendra  diperkirakan  yang  menurunkan Sanna, sebagai raja di Jawa.
    Sanjaya  tampil  memerintah  Kerajaan  Mataram   Kuno pada  tahun  717  – 780  M. Ia melanjutkan kekuasaan Sanna. Sanjaya kemudian melakukan penaklukan terhadap raja-raja kecil bekas bawahan Sanna yang melepaskan diri. Setelah itu, pada  tahun  732  M Raja Sanjaya mendirikan bangunan suci sebagai tempat pemujaan.
    Bangunan ini berupa  lingga dan berada   di atas  Gunung   Wukir (Bukit Stirangga). Bangunan suci itu merupakan lambang keberhasilan Sanjaya dalam menaklukkan raja-raja lain.
Raja Sanjaya bersikap arif, adil dalam memerintah, dan memiliki pengetahuan luas. Para pujangga dan rakyat hormat kepada  rajanya. Oleh karena  itu, di bawah  pemerintahan Raja Sanjaya, kerajaan menjadi aman  dan  tenteram. Rakyat hidup makmur.
    Mata pencaharian penting adalah pertanian dengan hasil  utama   padi.  Sanjaya  juga  dikenal sebagai  raja  yang paham  akan isi kitab-kitab suci. Bangunan suci dibangun oleh Sanjaya untuk pemujaan lingga di atas Gunung  Wukir, sebagai lambang  telah  ditakhlukkannya  raja-raja  kecil  di sekitarnya yang dulu mengakui kemaharajaan Sanna.
    Setelah Raja Sanjaya wafat,  ia digantikan oleh putranya bernama Rakai Panangkaran. Panangkaran mendukung adanya perkembangan agama  Buddha. Dalam Prasasti Kalasan yang berangka tahun  778, Raja Panangkaran telah memberikan hadiah tanah  dan  memerintahkan membangun sebuah  candi untuk  Dewi Tara dan sebuah  biara untuk  para pendeta agama Buddha. Tanah dan  bangunan tersebut terletak di Kalasan. Prasasti Kalasan juga menerangkan bahwa  Raja Panangkaran disebut dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Raja Panangkaran kemudian memindahkan pusat pemerintahannya ke arah timur
    Raja Panangkaran dikenal  sebagai penakluk yang gagah  berani bagi musuh- musuh kerajaan. Daerahnya bertambah luas.  Ia  juga   disebut   sebagai   permata dari Dinasti Syailendra. Agama Buddha Mahayana  waktu  itu berkembang pesat. Ia juga memerintahkan didirikannya bangunan-bangunan  suci.  Misalnya, candi Kalasan dan arca Manjusri.
    Setelah kekuasaan Penangkaran berakhir,   timbul   persoalan   dalam keluarga Syailendra, karena adanya perpecahan   antara    anggota   keluarga yang sudah  memeluk  agama  Buddha dengan keluarga  yang masih  memeluk  agama  Hindu (Syiwa).Hal ini menimbulkan perpecahan di dalam pemerintahan Kerajaan Mataram  Kuno. Satu  pemerintahan dipimpin oleh tokoh-tokoh kerabat istana yang menganut agama Hindu berkuasa di daerah Jawa bagian utara.  Kemudian keluarga yang terdiri atas tokoh-tokoh yang beragama Buddha  berkuasa  di daerah  Jawa bagian  selatan. Keluarga Syailendra yang beragama Hindu meninggalkan bangunan-bangunan candi  di Jawa  bagian  utara. Misalnya, candi-candi   kompleks   Pegunungan  Dieng   (Candi   Dieng) dan  kompleks  Candi Gedongsongo. Kompleks Candi Dieng memakai nama-nama tokoh wayang seperti Candi Bima, Puntadewa, Arjuna, dan Semar. Sementara yang beragama Buddha meninggalkan candi-candi seperti Candi Ngawen,  Mendut, Pawon  dan  Borobudur. Candi Borobudur  diperkirakan  mulai dibangun oleh Samaratungga pada  tahun 824 M. Pembangunan kemudian dilanjutkan pada zaman Pramudawardani dan Pikatan.
    Perpecahan di dalam  keluarga  Syailendra tidak berlangsung lama. Keluarga itu akhirnya bersatu kembali. Hal ini ditandai dengan perkawinan  Rakai  Pikatan  dan  keluarga   yang  beragama  Hindu dengan Pramudawardani, putri dari Samaratungga. Perkawinan itu terjadi  pada  tahun  832  M. Setelah itu, Dinasti Syailendra bersatu kembali di bawah  pemerintahan Raja Pikatan.
    Setelah Samaratungga wafat, anaknya dengan Dewi Tara yang bernama Balaputradewa menunjukkan sikap menentang terhadap Pikatan.  Kemudian   terjadi  perang   perebutan  kekuasaan antara Pikatan dengan Balaputradewa. Dalam perang  ini Balaputradewa membuat benteng  pertahanan di  perbukitan   di  sebelah  selatan Prambanan. Benteng  ini sekarang  kira kenal dengan Candi Boko. Dalam pertempuran,  Balaputradewa terdesak   dan melarikan  diri ke Sumatra.  Balaputradewa kemudian menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.
    Kerajaan  Mataram  Kuno  daerahnya bertambah  luas. Kehidupan   agama   berkembang  pesat   tahun   856  Rakai Pikatan turun  tahta  dan  digantikan  oleh  Kayuwangi  atau  Dyah Lokapala. Kayuwangi kemudian  digantikan  oleh Dyah Balitung. Raja Balitung merupakan raja yang  terbesar. Ia memerintah pada  tahun  898  –  911  M dengan gelar Sri Maharaja  Rakai Wafukura  Dyah Balitung Sri Dharmadya  Mahasambu. Pada pemerintahan Balitung bidang- bidang  politik, pemerintahan, ekonomi, agama,  dan  kebudayaan mengalami   kemajuan.   Ia  telah   membangun  Candi  Prambanan sebagai   candi  yang  anggun dan  megah. Relief-reliefnya sangat indah.
    Sesudah Balitung Kerajaan Mataram mulai mundur. Raja yang berkuasa setelah Balitung adalah Daksa, Tulodong, dan Wawa. Beberapa  faktor  yang  menyebabkan kemunduran Mataram  Kuno antara lain adanya  bencana alam  dan  ancaman dari musuh  yaitu Kerajaan Sriwijaya.

3. Sistem kepercayaan/agama kerajaan mataram kuno
    Berdasarkan prasasti Canggal yang menceritakan tentang pendirian Lingga (lambang Siwa), dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat Mataram Kuno Wangsa Sanjaya memiliki kepercayaan agama Hindu beraliran Siwa.
    Sebagian besar raja-raja Dinasti Syailendra beragama Budha Mahayana. Hal ini menunjukkan bahwa agama Buddha telah masuk di Mataram. Dengan dibangunnya candi-candi Buddha untuk beribadah, maka dapat disimpulkan pula bahwa rakyatnya beragama Buddha Mahayana.
    Kerajaan Mataram diperintah oleh Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Diansti tersebut memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu Syiwa berkuasa di utara sedangkan Dinasti Syailendra yang beraga Budha Mahayana berkuasa di selatan. Kedua agama tersebut dapat hidup berdampingan. Hal ini terlihat dengan adanya pernikahan politik antara Rakai Pikatan ( Dinasti Sanjaya ) dengan Pramodhawardhani ( Dinasti Syailendra ). Pernikahan tersebut selain bertujuan untuk menyatukan Kerajaan Mataram secara politik juga untuk mendorong toleransi di antara pemeluk agama Hindu dan Budha.

4. Hasil Kebudayaan Kerajaan Mataram Kuno

     1. Candi Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

1.Candi Sewu            
     Terletak di kawasan sekitar candi Prambanan, tepatnya di Desa Bugisan, Kec. Prambanan, Kab. Klaten, Jawa Tengah. Candi Sewu adalah candi Budha terbesar kedua setelah Borobudur.

2. Candi Arjuna                                    
     Terletak di kompleks Percandian Arjuna, tepatnya di Dataran Tinggi Dieng, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah. Candi Hindu satu ini mirip dengan candi-candi di kompleks Gedong Sanga.

3. Candi Bima
     Terletak di Desa Dieng Kulon, Kec. Batur, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah. Candi ini dikatakan memiliki banyak keunikan, misalnya dalam hal arsitekturnya yang mirip dengan candi-candi yang ada di India.
4. Candi Borobudur
     Candi peninggalan Kerajaan Mataram Lama yang satu ini sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia sebagai candi Budha terbesar yang pernah ada. Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah dan diperkirakan berasal dari ke 8 Masehi

5. Candi Mendut
     Candi Mendut merupakan candi peninggalan Agama Budha yang diperkirakan dibangun sejak Mataram berada di bawah kepemimpinan Raja Indra dari Dinasti Syailendra. Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah.
6. Candi Pawon
        Jika Borobudur, Mendut, dan Pawon dilihat dari atas, ketiganya terletak di satu garis lurus. Inilah yang membuat para ahli merasa keheranan. Candi pawon masih belum diketahui secara jelas asal-usulnya karena bukti sejarah yang ditemukan masih sangat terbatas.
7. Candi Puntadewa
       Candi yang terletak di kompleks candi Arjuna ini juga merupakan candi peninggalan kerajaan Mataram Kuno. Candi bercorak Hindu ini mempunyai ukuran kecil tapi terlihat tinggi.
8. Candi Semar
       Candi Semar terletak berhadapan langsung dengan Candi Arjuna. Bentuknya segiempat membujur arah Utara – Selatan dengan tangga masuknya berada di sisi Timur dan Barat.

   
2. Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

1. Prasasti Sojomerto ( sekitar Abad ke 7)
    Prasasti berbahasa Melayu Kuno yang ditemukan di desa Sojomerto, Kabupaten Pekalongan ini menjelaskan bahwa Syailendra adalah penganut agama Budha.

2. Prasasti Kalasan (778 M)  
     Prasasti ini berisi tentang kabar seorang raja Dinasti Syailendra yang membujuk Rakai Panangkaran agar mendirikan bangunan suci untuk Dewi Tara dan sebuah vihara bagi para pendeta Budha.

3. Prasasti Klurak (782 M)
    Prasasti yang ditemukan di daerah Prambanan ini berisi tentang berita pembuatan arca Manjusri sebagai wujud Sang Budha, Wisnu, dan Sanggha. Prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno ini juga menyebut nama Raja Indra sebagai raja yang berkuasa pada saat itu.

4. Prasasti Ratu Boko (856 M)
    Prasasti ini berisi berita kekalahan Balaputra Dewa dalam perang melawan kakaknya Rakai Pikatan atau Pramodhawardani dalam perebutan kekuasaan.
5. Prasasti Nalanda (860 M)
    Prasasti ini berisi tentang asal-usul Balaputra Dewa yang adalah cucu dari Raja Indra dan putra dari Raja Samarottungga.
6. Prasasti Cangal (732 M)
     Prasasti ini ditemukan di Gunung Wukir, Desa Canggal. Isinya berupa peringatan pembuatan lingga di Desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya.
7. Prasasti Mantyasih (907 M) dan 8. Prasasti Wanua Tengah III (908 M)
      Kedua prasasti ini berisi tentang daftar raja-raja yang pernah memerintah di Dinasti Sanjaya.

BAB III

PENUTUP


A. KESIMPULAN

Secara umum  kerajaan Mataram Kuno pernah di pimpin oleh 3 dinasti yang pernah berkuasa pada waktu itu, yaitu Wangsa Sanjaya, Wangsa Sailendra, dan Wangsa Isyana.Istilah Isyana berasal dari nama Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa, yaitu gelar Mpu Sindok setelah menjadi raja Medang (929–947). Silsilah Wangsa Isyana dijumpai dalam prasasti Pucangan tahun 1041 atas nama Airlangga, seorang raja yang mengaku keturunan Mpu Sindok. Dalam masa 70 tahun itu tercatat hanya tiga prasasti yang berangka tahun yang ditentuka, yaitu prasasti Hara-Hara tahun 888 Saka (966 M) prasasti Kawambang Kulwan tahun 913 Saka (992 M) dan prasasti ucem tahun 934 Saka (1012-1013 M).
Keteraturan kehidupan sosial di Kerajaan Mataram Kuno juga dibuktikan adanya kepatuhan hukum pada semua pihak. Peraturan hukum yang dibuat oleh penduduk desa ternyata juga di hormati dan dijalankan oleh para pegawai istana. Semua itu bisa berlangsung karena adanya hubungan erat antara rakyat dan kalangan istana.
Kerajaan mataram merupakan kerajaan yang system pemerintahanya adalah kerajaan.
masyarakat Mataram Kuno Wangsa Sanjaya memiliki kepercayaan agama Hindu beraliran Siwa dan Dengan dibangunnya candi-candi Buddha untuk beribadah, maka dapat disimpulkan pula bahwa rakyatnya beragama Buddha Mahayana.
Dan hasil-hasil kebudayaan masyarakat mataram kuno berupa candi-candi dan prasasti


B. SARAN
Semoga Makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi para pembaca.Selain itu kita bisa mengetahui lebih dalam tentang kerajaan-kerajaan hindu-budha di Indonesia khususnya Kerajaan Mataram kuno dan Kita sebagai penerus harus bisa melestarikannya serta menjaga  peninggalan-peninggalannya.
Kita sebagai generasi muda harus mengetahui tentang sejarah Kerajaan-Kerajaan di Indonesia. Agar kita lebih menghargai budaya-budaya kita di Indonesia yang sangat banyak. Menjaga peninggalan-peninggalan pada masa sebelum reformasi. Agar kedepannya kita masih bisa berbagi dan melihat peninggalan serta kebudayaan kita nanti.




DAFTAR PUSTAKA

http://www.tendasejarah.com/2015/12/sejarah-kerajaan-mataram-kuno-lengkap-hindu-budha.html

http://sejaradanbudaya.blogspot.co.id/2014/12/sejarah-kerajaan-mataram-kuno.html

Sumber: Sejarah SMA/MA Kelas X Kemdikbud 2014

http://ilmusosial.net/sistem-pemerintahan-kerajaan-mataram-kuno.html

Sumber: http://kisahasalusul.blogspot.com/2015/12/15-peninggalan-kerajaan-mataram-kuno.html

http://encuss26.blogspot.co.id/

http://mewkakara.blogspot.co.id/2015/05/makalah-sejarah-mataram-kuno.html
http://fastrans22.blogspot.com/2013/10/sumber-sejarah-dan-peninggalan-kerajaan_9857.htmlsssss

Komentar

Postingan Populer