Hidup Santai Tapi Dompet Menjerit: Panduan Bertahan di Era Serba Estetik

Hidup Santai Tapi Dompet Menjerit: Panduan Bertahan di Era Serba Estetik


Kalau kamu buka media sosial hari ini, kamu bakal menemukan pemandangan yang mirip di mana-mana: orang yang minum kopi seharga setengah liter bensin, caption motivasi tentang self love dari seseorang yang masih overthinking, dan seseorang lain yang menulis “hidupku chill banget sekarang”, padahal kerja tujuh hari seminggu sambil pura-pura nggak stres. Selamat datang di era ketika semua orang terlihat damai, tapi dompet mereka menjerit dalam diam.

Kita hidup di masa di mana makan mie instan pun harus tampak seperti acara kuliner. Harus ada telur setengah matang, daun bawang ditata diagonal, dan piring estetik warna krem dari toko online yang katanya “vibe-nya Jepang minimalis”. Ironisnya, piringnya bisa seharga seminggu uang makan, tapi demi feed Instagram yang rapi, semuanya terasa masuk akal. Sekarang yang penting bukan kenyang, tapi tone warna foto harus senada.

Fenomena ini sudah jadi gaya hidup massal: semakin estetik tampilan seseorang di medsos, biasanya semakin berantakan rekeningnya di dunia nyata. Tapi siapa peduli? Asal masih bisa bilang, “aku butuh healing,” di setiap akhir pekan, semuanya terasa sah.

Lucunya, konsep healing zaman sekarang seperti sinetron yang nggak tahu kapan tamatnya. Katanya mau menyembuhkan diri, tapi malah ke tempat wisata yang lebih ramai dari pasar malam, foto 200 kali, dan upload dengan caption “akhirnya bisa tenang juga.” Padahal tenangnya cuma lima detik, waktu filter Lightroom-nya pas. Setelah itu, stres lagi karena sinyal jelek atau saldo e-wallet menipis. Yang ironis, setelah healing, orang malah balik kerja dengan semangat baru buat nabung lagi demi healing berikutnya. Bukan penyembuhan, tapi siklus penderitaan dengan sentuhan estetik.

Sekarang juga lagi tren hidup “produktif”. Dulu, orang bangga kalau bisa tidur cukup. Sekarang, yang dipuji justru mereka yang bangun paling pagi, tidur paling malam, dan sempat upload story bertuliskan “kerja dulu demi masa depan”. Entah kenapa kelelahan kini jadi simbol sukses. Bahkan ada yang update story jam dua pagi, caption-nya “masih kerja”, padahal cuma ngerjain PowerPoint sambil buka YouTube dan ngemil.

Kita hidup di dunia yang memuja kesibukan, tapi lupa makna istirahat. Semua orang pengin terlihat produktif, padahal sebagian cuma sedang lelah tapi tidak mau mengakuinya. Mereka menyebutnya “burnout elegan” kelelahan yang difoto dengan angle bagus.

Dan di tengah semua ini, komunikasi manusia berubah jadi sesuatu yang sangat efisien tapi kosong makna. Percakapan sekarang cukup diselesaikan dengan emoji. Tanda tanya bisa diartikan curiga, tanda titik bisa berarti marah, dan emotikon menangis bisa berarti apa pun tergantung konteks: sedih, senang, atau cuma bosan. Kita makin cepat bicara, tapi makin malas memahami. Sekarang orang lebih panik kalau pesan belum dibalas lima menit, dibanding kalau listrik mati lima jam. Seolah kehilangan sinyal lebih menakutkan daripada kehilangan arah hidup.

Di sisi lain, semua orang terobsesi dengan konsep “self-improvement”. Buku motivasi dibeli, podcast pengembangan diri diputar setiap pagi, dan kelas online diikuti demi menjadi versi “terbaik” dari diri sendiri. Tapi setelah semua itu, hidup tetap sama: alarm tetap disnooze tiga kali, niat olahraga cuma bertahan dua hari, dan tugas penting baru dikerjakan ketika deadline tinggal dua jam lagi. Masalahnya bukan kurang motivasi, tapi terlalu banyak teori tanpa praktik.

Ada juga yang membaca buku pengembangan diri bukan untuk berkembang, tapi untuk pamer. Postingan seperti “baru baca Atomic Habits, gila mind-blowing banget” muncul di story, padahal halaman terakhir yang dibuka masih bab pengantar. Dunia ini kini penuh orang yang kelihatannya tercerahkan, tapi sebenarnya hanya lelah dengan dirinya sendiri.

Yang lebih lucu lagi, sekarang hidup sederhana malah dianggap kurang keren. Semua berlomba punya kopi mahal tiap hari, kamar warna krem, lilin aromaterapi, dan playlist lo-fi. Padahal, hidup normal itu sebenarnya seksi. Makan nasi hangat dengan lauk sederhana, nonton acara absurd di TV sambil rebahan, itu juga bentuk kebahagiaan yang sah. Nggak harus selalu “vibe estetik”, karena ketenangan nggak selalu punya filter warna pastel.

Kita terlalu sering membungkus kegelisahan dengan kata “self love”. Katanya sayang diri, tapi tetap memforsir diri buat terlihat bahagia di depan orang lain. Katanya hidup santai, tapi selalu khawatir engagement turun. Katanya ingin tenang, tapi setiap lima menit buka notifikasi. Manusia modern memang ahli dalam berpura-pura baik-baik saja.

Kadang aku berpikir, mungkin sarkasme adalah bentuk optimisme paling realistis di zaman ini. Karena kalau kita nggak bisa menertawakan hidup, ya tinggal nambah satu alasan lagi buat stres. Humor jadi bentuk pertahanan terakhir, dan sindiran jadi cara halus buat tetap waras.

Hidup hari ini memang aneh. Semua orang ingin jadi versi terbaik dari diri sendiri, tapi lupa menikmati versi dirinya yang sekarang. Kita terlalu sibuk mengejar kebahagiaan bergaya Pinterest, sampai lupa kalau bahagia sebenarnya bisa sesederhana tidur cukup tanpa notifikasi.

Jadi kalau kamu merasa hidupmu berantakan, tenang saja. Kamu nggak sendiri. Semua orang juga begitu, hanya saja mereka lebih jago memilih filter yang menyamarkan kekacauan itu. Kadang, perbedaan antara “hidup sempurna” dan “hidup seadanya” cuma perkara pencahayaan dan caption yang tepat.

Jadi santai saja. Nggak apa-apa kalau kamu belum punya piring estetik, belum bisa ke Bali buat healing, atau belum punya jadwal hidup seproduktif influencer. Hidupmu tetap valid meski tanpa latte art dan kamera mirrorless.

Karena di balik semua kehebohan dunia maya, ada satu kebenaran yang nggak berubah: semua orang terlihat bahagia di foto, sampai tagihan datang.

Jadi nikmati saja hidupmu, dengan segala kekacauan, tawa, dan absurdnya. Karena pada akhirnya, hidup bukan soal vibes tapi sinyal. Dan kalau sinyalnya lemah, ya jangan maksa jadi influencer kehidupan.


Komentar

Postingan Populer