MODEL PENDIDIKAN BISNIS UNTUK ANAK SEKOLAH DASAR MELALUI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN
MODEL PENDIDIKAN BISNIS UNTUK ANAK SEKOLAH DASAR MELALUI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN
Silvy Puji Lestari
Universitas Bengkulu
Email: silvypujilestari26@gmail.com
Abstrak
Pendidikan Kewirausahaan bertujuan untuk mengembangkan sikap, jiwa dan kemampuan menciptakan sesuatu yang bernilai bagi diri sendiri maupun orang lain. Sikap kreatif, inovatif, mandiri, leadership, pandai mengelola uang, dan memiliki jiwa pantang menyerah merupakan beberapa sikap wirausaha yang perlu ditanamkan kepada anak sejak dini. Hal ini perlu ditanamkan sejak dini mengingat berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi Negara Indonesia semakin besar. Nilai- nilai kewirausahaan ini menjadi pokok-pokok penting dalam pembentukan kecakapan hidup (lifeskill) pada anak. Selain melalui pendidikan di keluarga, pendidikan kewarusahaan dapat diimplementasikan secara terpadu dengan kegiatan pembelajaran di sekolah. Siswa Sekolah Dasar dapat dilatih untuk mengembangkan sikap, jiwa dan kemampuan berwirausaha melalui berbagai kegiatan kreatif yang dapat diintegrasikan dengan kurikulum yang berlaku. Berbagai strategi dan metode dapat dilakukan guru untuk menumbuhkan nilai- nilai baik dari karakter wirausahawan yang sukses. Pendidikan kewirausahaan yang diajarkan sejak SD diharapkan mampu mengurangi pola konsumtif pada anak dengan melatih untuk menciptakan sesuatu yang bernilai dan membawa generasi penerus untuk menciptakan pekerjaan di masa depan. Sehingga dalam hal ini, guru dan orang tua memiliki peran penting untuk mengembangkan keterampilan kecakapan hidup anak serta menumbuhkan minat dan potensi dalam diri anak melalui kewirausahaan.
Kata kunci: pendidikan, kewirausahaan, anak, sekolah dasar
Abstract
Entrepreneurship education aims to develop attitudes, soul and spirit the ability to create something of value for oneself and others. Attitude creative, innovative, independent, leadership, good at managing money, and has a spirit of abstinence giving up are some entrepreneurial attitudes that need to be instilled in children since early. This needs to be instilled from an early age given the various economic challenges faced by the Indonesian State is getting bigger. These entrepreneurial values are important points in the formation of life skills in children. Apart from going through education in the family, entrepreneurship education can be implemented in an integrated manner with learning activities at school. Elementary School students can be trained to develop entrepreneurial attitudes, souls and abilities through various creative activities which can be integrated with the applicable curriculum. Various strategies and methods teachers can do to foster good values from the character of an entrepreneur success. Entrepreneurship education taught since elementary school is expected to be able to reduce consumptive patterns in children by training to create something of value and bringing the next generation to create the jobs of the future. So that in terms of In this case, teachers and parents have an important role to play in developing skills life skills of children and fostering interest and potential in children through entrepreneurship.
Keywords: education, entrepreneurship, children, elementary school
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam melimpah, baik kekayaan daratan dan hutan, minyak dan gas bumi, hingga kekayaan laut. Selain itu, jumlah penduduk Indonesia kini mencapai lebih dari 250juta jiwa, dan merupakan Negara berpenduduk terbesar ketiga setelah China dan India. Dari segi kuantitas, aspek keragaman suku dan budayanya juga variatif. Dalam hal ini berarti, Indonesia memiliki cukup potensi untuk menjadi Negara yang maju dan besar. Namun kekayaan- kekayaan yang dimilkii oleh bangsa Indonesia belum secara optimal termanfaatkan untuk kesejahteraan masyaraktnya. Hal ini terbukti dari banyaknya kasus penggundulan hutan di Indonesia sehingga akhirnya mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor. Kegiatan yang dilakukan warga tersebut tentu sangat merugikan masyarakat sendiri maupun negara.
Sementara di sisi lain, besarnya jumlah penduduk di Indonesia ini kurang diikuti oleh aspek kualitas sumber daya manusianya jika dibandingkan negara- negara lain, kualitas manusia Indonesia masih termasuk rendah. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) hingga Agustus 2015, jumlah pengangguran mencapai 7,56 juta orang. Dari jumlah ini, sebanyak 6, 18 % nya adalah pengangguran terbuka atau tidak memiliki pekerjaan sama sekali untuk menopang hidup. Sedangkan sisanya, yaitu sekitar 34,31 juta orang adalah pengangguran setengah terbuka atau tidak memiliki pekerjaan tetap. Data jumlah maupun persentase pengangguran tersebut mengalami peninggkatan disbanding periode Februari 2016. Kondisi tersebut mengisyaratkan bahwa pertumubuhan ekonomi belum mampu mendorong penyerapan tenaga kerja yang tersedia. Masalah sumber daya manusia Indonesia tersebut dinilai sangat kompleks karena tidak hanya tingkat pendidikan yang rendah, namun lulusan SMK maupun perguruan tinggi yang seharusnya sudah matang pekerja, ternyata belum siap pakai.
Fakta memperlihatkan bahwa banyak angkatan kerja yang ada belum terserap secara maksimal pada sector ekonomi formal. Misal, banyaknya lulusan sarjana yang menganggur karena belum lolos CPNS. Sementara, untuk masuk sektor non-formal, masyarakat belum memiliki bekal keterampilan yang cukup untuk menciptakan usaha ekonomi kreatif. Hal tersebut merupakan masalah besar yang harus dihadapi bangsa Indonesia saat ini dan masih harus dihadapi pada masa mendatang. Problem pertama terkait dengan kemiskinan dan pengangguran, problem kedua tentang mentalitas kewirausahaan dan sistem pendidikan untuk membekali dan mengoptimalkan lulusannya.
Sementara itu, tantangan lain yang muncul adalah adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang menuntut tenaga kerja Indonesia harus mampu bersaing dengan tenaga kerja dari luar khususnya dari Negara- Negara ASEAN. Adanya MEA memungkinkan adanya pertukaran barang dan jasa dengan mudah antara satu Negara dengan Negara lain, tidak terkecuali tenaga kerja. Sampai saat ini pemerintah terus mengupayakan agar tenaga Indonesia mampu bersaing dengan tenaga luar negeri. Pada beberapa kasus yang sudah terjadi, perusahan- perusahaan local menerima tenaga luar negeri karena dianggap lebih terampil dan kompeten dari tenaga local. Masalah- masalah seperti ini dapat memicu psikologis seseorang jika kurang dibekali jiwa wirausahawan sejak dini. Seseorang dapat menjadi putus asa karena tidak mendapatkan pekerjaan. Padahal yang harus dilakukan generasi saat ini adalah mengupayakan untuk menciptakan lapangan kerja tidak hanya mencari pekerjaan.
Melihat hal tersebut, maka dunia pendidikan harus mampu berperan aktif menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi tantangan lokal, regional, nasional, maupun internasional. Pendidikan yang mampu untuk mengatasi hal tersebut salah satunya adalah pendidikan yang beroirentasi pada jiwa entrepreneurship, yaitu jiwa yang berani dan mampu menghadapi problem hidup dan memiliki jiwa kreatif untuk mengatasi masalah dan mandiri. Pendidikan kewirausahaan adalah pendidikan yang menerapkan prinsip- prinsip dan metodologi kearah pembentukan kecakapan hidup (life skill) pada siswa melalui kurikulum yang dikembangkan di sekolah. Hal ini sejalan dengan pendapat Sri Yuliati, seorang pakar pendidikan dari komunitas homeschooling Indonesia dalam Wijatno (2009: 126) yang menjelaskan tentang. paradigma pemenuhan hak anak agar menjadi anak merdeka dengan memberikan pedidikan yang bersifat life skill dan salah satunya adalah pendidikan kewirausahaan atau entrepreneurship.
Pendidikan kewirausahaan perlu dikembangkan sejak dini, hal ini cukup beralasan agar Indonesia dapat mencetak generasi penerus yang siap dengan tantangan- tantangan ekonomi di masa mendatang. Pendidik adalah “agen of change” yang diharapkan mampu menanamkan cirri- cirri, sifat dan watak serta jiwa kewirausahaan atau jiwa entrepreneurship bagi siswanya. Di samping itu, jiwa entrepreneur juga sangat diperlukan bagi seorang pendidik, karena melalui jiwa ini para pendidik akan memiliki orientasi kerja yang lebih efisien, kreatif, inovatif, produk, dan mandiri. Guru perlu menyiapkan anak usia sekolah dasar dengan berbagai strategi untuk menanamkan nilai- nilai pendidikan kewirausahaan. Guru memiliki tanggung jawab yang besar dalam membentuk karakter anak agar siap dengan tantangan kehidupan dari berbagai aspek bidang, khususnya bidang ekonomi.
Manfaat adanya pendidikan kewirausahaan bagi perkembangan dan pertumbuhan negara sudah banyak diungkapkan oleh para ahli. Kewirausahaan merupakan alternatif yang cukup efektif untuk mengatasi berbagai problem sosial yang ada, baik problem pengangguran, kemiskinan, maupun keterbelakangan social lainnya. Arianto (2011: 33) menyebutkan bahwa kewirausahaan atau entrepreneurship merupakan alternatif solusi yang memiliki multiplier effect atau efek ganda, yaitu dapat mengatasi problem ekonomi dan meningkatkan kualitas mentalitas sumber daya manusia. Karena itu, perhatian pemerintah terhadpap alternatif kewirausahaan ini perlu dilakukan dengan sungguh- sungguh. Tumbuhnya kewirausahaan di Indonesia dapat diketahui dari semakin banyaknya UKM yang berkembang dan mampu mengahasilkan produk- produk yang dapat bersaing, baik dalam pasar local maupun global. Hal ini didukung oleh pendapat Wibowo (2010: 35) yang menjelaskan bahwa seiring dengan perkembangan zaman, hal – hal yang perlu dikuasai oleh setiap negara untuk meningkatkan keunggulannya antara lain, (1) menguasai perkembangan IPTEKS, meningkatkan jumlah entrepreneur, (3) memiliki tenaga kerja yang terdidik dan terlatih dengan etos kerja tinggi, (4) melakukan pengendalian mutu terpadu barang yang dihasilkan, melakukan inovasi dan promosi yang aktif.
Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli di atas, maka jelaslah manfaat perlunya mengubah pola pikir masyarakat Indonesia untuk siap menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Seorang entrepreneur dapat dikatakan sebagai patriot bagi negaranya. Tanpa dilandasi rasa cinta kepada tanah air maka muncul adalah eksportir yang semata- mata mencari keuntungan secara pribadi tanpa mengindahkan apakah barang yang diperdagangkan itu membawa keuntungan juga bagi negaranya atau justru merugikan negaranya. Salah satu contoh, jika seorang wirausahawan melihat peluang besar mengekspor kayu gelondongan dengan prospek harga yang bagus, ia mencari cara untuk menjadi pengepul kayu namun secara illegal. Tentu yang dilakukan oleh seseorang tersebut bertentangan dengan hukum dan memiliki dampak bagi kelestarian lingkungan yang dapat mengakibatkan bencana. Maka dari itu, perlu persiapan dengan matang untuk mengupayakan penanaman nilai- nilai kewirausahaan sejak dini pada usia sekolah dasar. Guru dan orang tua sebagai dua pilar pendidikan anak perlu mengupayakan hal ini sebaik mungkin. Anak- anak perlu dibekali nilai- nilai kewirausahaan ini agar memiliki jiwa mandiri, kreatif, inovatif, tidak mudah menyerah, yang semua itu dapat diaplikasikan dalam kehiduan sehari- hari anak. Berikut disajikan pengantar mengenai hakikat kewirausahaan, kajian tentang karakteristik anak usia sekolah dasar, dan aplikasi dari pendidikan kewirausahaan bagi anak usia sekolah dasar.
METODE PENELITIAN
Ditinjau dari jenis data yang dipakai, penelitian kali ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sebagaimana yang dikemukakan Sukmadinata (2011:6) bahwa yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Dalam Sugiyono (2016:14) dijelaskan bahwa metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting).
Pendekatan yang dipakai pada penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Yaitu penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang (Dharma, 2008:39). Peneliti menggunakan pendekatan ini karena dirasa mampu menguak permasalahan sedikitnya jumlah wirausahawan dan menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data yang ditemukan pada pengumpulan data dan informasi, sehingga makna yang ada dapat dipahami dengan baik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengertian Kewirausahaan
Kewirausahaan merupakan suatu ciri yang dapat diamati dalam tindakan seseorang atau institusi. Wirausaha dalam bidang kesehatan, pendidikan dan bisnis pada dasarnya bekerja dengan cara yang sama, mereka bekerja lebih baik, mereka melakukannya berbeda dari yang lain (Drucker, 2007:45). Kewirausahaan sebagai perilaku dapat ditunjukkan melalui tanggapan/respon yang dinamis, mengandung risiko, kreatif dan berorientasi pada pertumbuhan yang merupakan suatu proses inovasi (Susilaningsih, 2015:3). Seorang wirausaha adalah orang yang melihat adanya peluang. Pengertian wirausaha disini menekankan pada setiap orang yang memulai sesuatu bisnis yang baru (Alma, 2011:24).
Kewirausahaan merupakan sebuah alat dari pandangan hidup seseorang yang menginginkan adanya kebebasan dalam ekonomi untuk menciptakan sesuatu yang baru dengan menggunakan sumber daya yang ada. Untuk mencapai tersebut tentunya harus pandai memanfaatkan peluang-peluang melalui kesempatan bisnis, kemampuan manajemen pengambilan resiko yang tepat untuk mencapai kesempatan, dan melalui kemampuan komunikasi dan keahlian manajemen dalam menggerakkan manusia, keuangan dan sumber daya materi untuk menghasilkan proyek dengan baik (Ranto, 2007: 21).
Menurut Suherman (2008:13) kewirausahaan pada dasarnya merupakan jiwa dari seseorang yang diekspresikan melalui sikap dan perilaku yang kreatif dan inovatif untuk melakukan suatu kegiatan. Adapun orang yang memiliki jiwa tersebut tentu saja dapat melakukan kegiatan kewirausahaan atau menjadi pelaku kewirausahaan.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan adalah mengenai proses menciptakan sesuatu yang berbeda, yang memiliki nilai tambah melalui pengorbanan waktu dan tenaga dengan berbagai resiko sosial dan mendapatkan penghargaan akan sesuatu yang diperoleh beserta dengan timbulnya kepuasaaan pribadi dari hasil yang diperoleh. Pengertian wirausaha disini menekankan pada setiap orang yang memulai sesuatu bisnis yang baru. Kewirausahaan juga merupakan kemampuan diri yang ada pada diri seseorang untuk menentukan dan mengevaluasi peluang-peluang usaha dengan mengelola sumber-sumber yang ada.
Implementasi Pendidikan Kewirausahaan di SD
Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan, mengamanatkan kepada seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia untuk mengembangkan program-program kewirausahaan. Pemerintah menyadari betul bahwa dunia usaha merupakan tulang punggung perekonomian nasional, sehingga harus diupayakan untuk ditingkatkan secara terus menerus. Melalui gerakan ini diharapkan karakter kewirausahaan akan menjadi bagian dari etos kerja masyarakat dan bangsa Indonesia, sehingga dapat melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru yang handal, tangguh, dan mandiri. Integrasi pendidikan kewirausahaan dalam pendidikan merupakan momentum untuk revitalisasi kebijakan Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan, mengingat jumlah terbesar pengangguran terbuka dari tamatan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Melalui kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang memasukkan kurikulum pendidikan kewirausahaan di lembaga pendidikan (Depdiknas,2005). Konsep kewirausahaan terintegrasi sejak anak didik duduk di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikan kewirausahaan membekali peserta didik untuk mandiri dan tidak berorientasi menjadi pencari kerja melainkan pembuka lapangan pekerjaan. Sekolah Dasar atau disebut masa sekolah usia antara 7-12 tahun. Menurut Poerwati (2013: 118) pemikiran siswa SD masih bisa dibentuk sesuai dengan kebutuhan lingkungan, sehingga pola pikir tentang cita-cita anak-anak menjadi wirausahawan harus segera dibentuk. Bebrapa mdel yang digunakan sebagai penyelenggara penanaman nilai kewirausahaan:
Model Terintegrasi dalam Mata Pelajaran
Pendidikan kewirausahaan dapat juga diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran yang berwawasan pendidikan kewirausahaan tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. Keunggulan model ini adalah semua guru ikut bertanggungjawab akan penanaman nilai-nilai pendidikan kewirausahaan kepada peserta didik. Pemahaman nilai sikap wirausaha dalam diri peserta didik tidak melulu bersifat informative-kognitif, melainkan bersifat terapan pada tiap mata pelajaran. Kelemahan dari model ini adalah penanaman pendidikan kewirausahaan yang diiternalisasikan hanya sebatas nilai dan sikap seperti jujur, disiplin, kompetetif dan lainnya, belum ada penanaman basic untuk berwirausaha.
Model di Luar Pembelajaran Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter termasuk karakter wirausaha dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik. Keunggulan model ini adalah peserta didik sungguh mendapat nilai melalui pengalaman – pengalaman konkrit. Pengalaman akan lebih tertanam dalam jika dibandingkan sekadar informasi apalagi informasi yang monolog. Peserta didik-peserta didik lebih terlibat dalam menggali nilai-nilai hidup dan pembelajaran lebih menggembirakan.Kelemahan model ini adalah tidak ada struktur yang tetap dalam kerangka pendidikan dan pengajaran di sekolah dan membutuhkan waktu lebih banyak. Model ini juga menuntut kreativitas dan pemahaman akan kebutuhan peserta didik secara mendalam, tidak hanya sekadar acara bersama belaka, dibutuhkan pendamping yang kompak dan mempunyai persepsi yang sama. Kegiatan semacam ini tidak bisa hanya diadakan setahun sekali atau dua kali tetapi harus berulang kali.
Model Pembudayaan, Pembiasaan Nilai dalam Seluruh Aktifitas dan Suasana Sekolah. Penanaman nilai-nilai pendidikan kewirausahaan dapat juga ditanamkan melalui pembudayaan dalam seluruh aktifitas dan suasana sekolah. Pembudayaan akan menimbulkan suatu pembiasaan. Untuk menumbuhkan nilai-nilai pendidikan kewirausahaan sekolah perlu merencanakan suatu budaya dan kegiatan pembiasaan. Bagi peserta didik yang masih kecil, pembiasaan sangat penting. Karena dengan pembiasaan itulah akhirnya suatu aktivitas akan menjadi milik peserta didik di kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya, pembiasaan yang buruk akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk pula. Berdasarkan pembiasaan itulah peserta didik terbiasa menurut dan taat kepada peraturan-peraturan yang beralaku di sekolah dan masyarakat, setelah mendapatkan pendidikan pembiasaan yang baik di sekolah pengaruhnya juga terbawa dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sampai dewasa nanti. Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah dan kadang-kadang membutuhkan waktu yang lama untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan kewirausahaan melalui pembiasaan pada peserta didikpeserta didik Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar pula untuk mengubahnya.
Model Mata Pelajaran Substansi Kewirausahaan
Selain menggunakan model intregasi terhadap mata pelajaran umum, nilai-nilai Pendidikan kewirausahaan dapat disubstansikan ke dalam mata pelajaran, mata pelajaran yang dapat tersubstansikan kewirausahaan lebih mengarah pada muatan lokal, setiap daerah memiliki muatan lokal yang berbeda-beda disesuaikan dengan daerah masing-masing. Muatan lokal yang tersubstansi kewirausahaan tidak secara keseluruhan membahas mengenai kewirausahaan, melainkan pendidikan penanaman nilai, sikap dan basic kewirausahaan, misalnya muatan lokal TTGA dan KPDL, dalam muatan local tersebut secara tidak langsung menginternalisasikan pendidikan kewirausahaan dalam bidang pertanian, peternakan dan sikap bersosialisasi dengan masyarakat. Keunggulan model ini adalah siswa secara langsung mempraktikan kegiatan dalam muatan lokal sehingga memiliki bekal untuk berwirausaha, sedangkan kelemahan model ini adalah muatan lokal setiap daerah berbeda-beda sehingga ada kemungkinan tidak semua muatan lokal yang ada menginternalisasikan nilai nilai pendidikann kewirausahaan.
Model Gabungan
Model gabungan berarti menggunakan gabungan antara model terintegrasi dan di luar pembelajaran secara bersamasama. Penanaman nilai lewat pengakaran formal terintegrasi bersama dengan kegiatan di luar pembelajaran. Model ini dapat dilaksanakan baik dalam kerja sama dengan tim oleh guru maupun dalam kerja sama dengan pihak luar sekolah. Keunggulan model ini adalah semua guru terlibat dan bahkan dapat dan harus belajar dari pihak luar untuk mengembangkan diri peserta didik. Anak mengenal nilai-nilai hidup untuk membentuk mereka baik secara informative maupun diperkuat dengan pengalaman melalui kegiatan-kegiatan yang terencana dengan baik. Kelemahan model ini adalah menuntut keterlibatan banyak pihak dan banyak waktu untuk koordinasi. Selain itu, tidak semua guru mempuanyai kompetensi dan keterampilan untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan kewirausahaan.
SIMPULAN
MEA telah resmi diberlakukan, perlu adanya kesiapan Indonesia dalam menghadapi momentum utamanya dalam menghadapi permasalahan TPT dan jumlah wirausahawan yang hanya mencapai 1,56 % Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pemberian pendidikan kewirausahaan di tingkat Sekolah Dasar. Kewirausahaan adalah mengenai proses menciptakan sesuatu yang berbeda, yang memiliki nilai tambah melalui pengorbanan waktu dan tenaga dengan berbagai resiko sosial dan mendapatkan penghargaan akan sesuatu yang diperoleh beserta dengan timbulnya kepuasaaan pribadi dari hasil yang diperoleh. Ada beberapa model pendidikan kewirausahaan di SD dianVGHBJNtarannya adalah model gabungan, model mata pelajaran substansi kewirausahaan, model
pembudayaan, pembiasaan nilai dalam seluruh aktifitas dan suasana sekolah, model di luar pembelajaran melalui kegiatan ekstrakurikuler, model terintegrasi dalam mata pelajaran. Tiap model memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dengan adanya pemberian pendidikan kewirausahaan di SD diharapkan anak-anak memiliki pemahaman dan karakter kewirausahaan semenjak kecil sehingga mereka mampu mengaplikasikannya di masa depan nanti.
SARAN
Berdasarkan Artikel yang telah dipaparkan oleh penulis, maka diharapkan :
Pemerintah siap mempertimbangkan bahwa pendidikan kewirausahaan di SD adalah salah satu cara efektif yang dapat di gunakan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan dapat diupayakan sebagai sarana penunjang kegiatan sekolah
Masyarakat dan pihak sekolah Mampu bekerja sama sehingga pendidikan kewirausahaan di SD terlaksana secara efektif
Pihak sekolah mampu mengoptimalkan pelaksanaan pendidikan kewirausahaan di SD sehingga mampu menumbuhkan berbagai karakter atau sikap baik yang ada pada siswa
Pihak orang tua diharapkan mendukung dan berpartisipasi penuh dalam pelaksanaan pendidikan kewirausahaan di sekolah agar pelaksanaan menjadi maksimal dan sesuai dengan apa yang diharapkan
DAFTAR PUSTAKA
Alma. (2011). Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung : Penerbit Alfabeta.
BPS. (2017). Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Fabruari Tahun 2017. Diakses tanggal 1
Mei 2017 dari ntb.bps.go.id/webs/brs_ind/brsInd 20170505143137.pdfv.
Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor: 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta
Dharma, Surya. (2008). Pendekatan, Jenis, Dan Metode Penelitian Pendidikan. Direktorat Tenaga Kependidikan. Jakarta:Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal.
Drucker, Peter F. (2007). Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles.
Oxford: Butterworth-Heinemann.
Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 1995 Tentang gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan
Piaget, J. (1977). The Essential Piaget. ed by Howard E. Gruber and J. Jacques Voneche
Gruber, New York: Basic Books.
Piaget, J. (1983). "Piaget's theory". In P. Mussen (ed). Handbook of Child Psychology. 4th
edition. Vol. 1. New York: Wiley
Poerwati, Endah Loeloek, dkk. (2013). Panduan Memahami Kurikulum 2013. Jakarta: Prestasi Pusaka.
Ranto. (2007). Korelasi antara Motivasi, Knowledge of Entreprenurship dan Indepen-densi dan The Entrepreneur’s Performance pada Kawasan Industri Kecil, Manajemen Usahawan Indonesia, LMFE-UI, Jakarta.
Sugiyono. (2010). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Suherman. (2008). Desain Pembelajaran Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2013). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.
Susilaningsih. (2015). Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi: Pentingkah untuk
Semua Profesi?. Jurnal Ekonomia dan Bisnis Vol 2 Nomor 1. E-ISSN 2460-1152.
Tempo. (2016). Menangkan MEA, Jokowi: RI Perlu 5,8 Juta Pengusaha Muda Baru. Diakses
pada 1 Mei 2017 dari 23/092773404/menangkan-mea jokowi-ri-perlu-5-8-juta-pengusaha-muda-baru.
Komentar
Posting Komentar